UMKM Enak tapi “Kalah Tempat”: Kolaborasi Mahasiswa Bantu Diah Cookies Lebih Mudah Ditemukan

banner 468x60

Surabaya — Di tengah pesatnya pencarian lokasi usaha berbasis Google Maps dan media sosial, banyak UMKM potensial di Surabaya justru tertinggal karena persoalan klasik: kalah tempat. Kondisi inilah yang dialami Diah Cookies, usaha kue rumahan yang telah berdiri sejak 2001 namun berada di tengah permukiman kampung, sehingga kerap sulit ditemukan calon pelanggan baru meski produknya dikenal lezat dan memiliki pelanggan setia.

Persoalan lokasi yang dianggap sepele ini justru menjadi isu krusial di era digital, ketika keputusan membeli sering diawali dari pencarian visual dan penanda lokasi daring. Berangkat dari realitas tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya memilih Diah Cookies sebagai mitra dalam proyek pembelajaran berbasis tugas nyata (Project Based Learning). UMKM ini dinilai memiliki potensi besar sebagai offline store, namun masih membutuhkan penguatan komunikasi visual dan penanda lokasi agar lebih mudah dijangkau masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Melalui kolaborasi lintas mata kuliah Periklanan, Manajemen Public Relations, Desain Grafis, serta Komunikasi Visual dan Fotografi, mahasiswa turun langsung ke lapangan. Mereka merancang konsep branding baru yang tidak hanya berfokus pada estetika media sosial, tetapi juga pada aspek fungsional: foto produk yang lebih rapi, video profil usaha, identitas visual, hingga materi promosi yang membantu konsumen memahami dengan jelas bentuk toko dan titik lokasi Diah Cookies. “Tujuan kami sederhana, agar orang langsung tahu: tokonya seperti apa dan lokasinya di mana,” ungkap salah satu mahasiswa tim proyek.

Menariknya, ketika mahasiswa bekerja membantu UMKM, dampak positifnya tidak hanya dirasakan mitra usaha. Secara tidak langsung, proyek ini juga membangun citra Program Studi Ilmu Komunikasi di mata publik. Masyarakat dapat melihat bahwa pembelajaran tidak berhenti pada teori di ruang kelas, tetapi diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi pelaku usaha kecil. Bagi Diah Cookies, pendampingan ini sangat membantu, mengingat tidak semua pemilik UMKM memiliki waktu dan sumber daya untuk mempelajari strategi konten, desain, dan promosi digital secara mandiri.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang autentik tentang praktik komunikasi di lapangan—bahwa kreativitas bukan sekadar idealisme visual, melainkan alat untuk memecahkan masalah praktis. Sementara bagi program studi, pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dalam membangun reputasi, bukan lewat promosi institusional semata, melainkan melalui hasil konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Diah Cookies mungkin hanya satu UMKM di tengah kampung, namun dari kasus sederhana ini terlihat jelas bahwa ketika kampus dan UMKM berjalan bersama, pendidikan komunikasi dapat benar-benar menyentuh realitas, memberi dampak, dan membuka peluang yang lebih luas bagi ekonomi lokal.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60