Program Pelatihan Literasi Digital kembali digelar sebagai bagian dari upaya mendorong transformasi digital yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia. Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Digital dan Tantangan Mewujudkan Generasi Muda Cakap Digital” dan ditujukan untuk membekali anak muda dengan pemahaman kritis dalam menghadapi ekosistem digital yang semakin kompleks.
Salah satu materi utama dalam pelatihan tersebut bertajuk “Manage Your Algorithm, Don’t Let It Manage You” yang disampaikan oleh Ahmad Nashikhul Huda, S.Sos. Materi ini menekankan pentingnya kesadaran generasi muda dalam mengelola interaksi digital agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma media sosial dan platform digital.
Dalam paparannya, dijelaskan bahwa ketangguhan digital menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda. Hal ini didukung oleh sejumlah data, di antaranya jumlah pengguna internet aktif di Indonesia yang telah menembus 229 juta jiwa. Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan durasi screen time ponsel tertinggi di dunia. Generasi Z bahkan disebut sebagai kelompok pengguna internet paling interaktif di Indonesia.
Kondisi tersebut diiringi dengan berbagai tantangan serius di ruang digital. Data menunjukkan adanya lebih dari satu miliar serangan siber setiap tahun, serta tekanan algoritmik berupa fenomena fear of missing out (FOMO), oversharing, dan kecenderungan impulsive posting yang kerap memengaruhi perilaku digital anak muda.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pelatihan ini menekankan empat pilar utama literasi digital, yakni Digital Skills, Digital Safety, Digital Ethics, dan Digital Culture. Keempat pilar ini dipandang sebagai fondasi penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat tetap aman, cerdas, dan bernilai di ruang digital.
Pada aspek Digital Ethics dan Digital Culture, peserta diajak memahami batasan etika dalam berinteraksi di dunia maya. Materi ini menyoroti pentingnya berpikir sebelum berbicara, membedakan kritik dan perilaku toksik, serta membiasakan jeda atau pause selama lima detik sebelum merespons konten digital.
Sementara itu, pada pilar Digital Safety, pemateri mengingatkan risiko kejahatan digital seperti phishing, hoaks, dan kebocoran data pribadi. Peserta juga diajak memahami bahwa dunia online tidak selalu aman dan tidak semua pihak memiliki niat baik, sehingga kewaspadaan menjadi kunci utama dalam beraktivitas digital.
Melalui pelatihan ini, penyelenggara berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengelola algoritma, menjaga keamanan digital, serta membangun budaya digital yang sehat dan beretika. Literasi digital dinilai menjadi langkah strategis untuk menciptakan masyarakat yang adaptif, kritis, dan tangguh di tengah arus transformasi digital yang terus berkembang.










