Surabaya – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang terdiri atas Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita, Bagus Cahyo Shah Adhi Pradana, Tri Pramesti, Aurelia Zahwa Nuriza, dan Irma Dewi Nirwana berhasil mengembangkan program Digital Heritage Tari Tradisional sebagai upaya memperkuat pelestarian wisata budaya berkelanjutan di Sanggar Tari Mugi Lestari. Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi dalam mendampingi komunitas seni agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital sekaligus memperluas jangkauan pelestarian budaya kepada masyarakat.
Program pengabdian ini berangkat dari berbagai tantangan yang dihadapi Sanggar Tari Mugi Lestari, mulai dari rendahnya regenerasi penari muda, minimnya eksistensi di ruang digital, terbatasnya kemampuan produksi konten, hingga belum tersedianya sistem dokumentasi budaya secara digital. Melalui pendekatan Digital Heritage, tim pengabdian menghadirkan berbagai inovasi yang mengintegrasikan pelestarian budaya dengan komunikasi digital sehingga nilai-nilai budaya dapat diakses secara lebih luas, khususnya oleh generasi muda.
Ketua tim pengabdian, Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita, menjelaskan bahwa transformasi digital merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari dalam upaya menjaga keberlangsungan budaya lokal.
“Pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan secara langsung. Budaya juga harus hadir di ruang digital agar dapat dipelajari, diapresiasi, dan diwariskan kepada generasi muda. Melalui Digital Heritage, kami ingin membangun ekosistem pelestarian budaya yang adaptif, berkelanjutan, dan mampu memperkuat identitas budaya lokal di era digital.”
Selama pelaksanaan program, tim pengabdian melaksanakan serangkaian kegiatan yang meliputi pembentukan Kelas Tari Digital, pelatihan Digital Branding and Activation, pendampingan produksi video edukasi, pelatihan Digital Content Production, penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) produksi beserta Content Calendar, hingga pembangunan Digital Heritage Archive sebagai pusat dokumentasi budaya berbasis digital. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan pengurus, pelatih, serta anggota Sanggar Tari Mugi Lestari.
Hasil program menunjukkan capaian yang menggembirakan. Sanggar Tari Mugi Lestari kini memiliki satu Kelas Tari Digital, mengalami peningkatan engagement media sosial sebesar 35 persen, menghasilkan lima video edukasi budaya, mampu memproduksi enam konten digital secara mandiri, memiliki satu kalender konten, serta berhasil membangun 20 arsip digital budaya yang dimanfaatkan sebagai media edukasi sekaligus promosi budaya. Berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan Digital Heritage mampu memperkuat kapasitas digital mitra sekaligus meningkatkan eksistensi budaya lokal di ruang digital.
Sementara itu, pengelola Sanggar Tari Mugi Lestari mengapresiasi pendampingan yang diberikan oleh tim Untag Surabaya karena membawa perubahan nyata dalam pengelolaan komunikasi digital sanggar.
“Program ini memberikan pengalaman baru bagi kami dalam mengelola media digital. Kini kami memiliki kelas tari digital, video edukasi, sistem pengelolaan konten, serta arsip budaya yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran maupun promosi. Kami optimistis upaya pelestarian budaya akan semakin dikenal oleh masyarakat luas.”
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas seni, program ini menunjukkan bahwa teknologi digital dapat menjadi sarana strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya Indonesia. Tim pengabdian Untag Surabaya berharap model Digital Heritage yang telah dikembangkan dapat direplikasi oleh komunitas seni lainnya sehingga semakin banyak warisan budaya lokal yang terdokumentasi, dipromosikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang melalui pemanfaatan teknologi digital





