Laut Indonesia Makin Asam, Karang Terancam: Penurunan pH di Paparan Sunda Melaju Dua Kali Lebih Cepat

banner 468x60

Laut yang kita bayangkan sebagai hamparan biru dengan ikan dan terumbu karang kini mengalami perubahan kimiawi senyap berupa pengasaman laut atau ocean acidification.

Fenomena ini terjadi cepat di Indonesia, terutama di Paparan Sunda yang meliputi perairan barat Indonesia, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Karimata, dan Laut Jawa.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Penelitian Profesor Riset Biogeokimia Laut BRIN, A’an Johan Wahyudi, menunjukkan penurunan pH di wilayah ini dua kali lebih cepat dari rata-rata global.

Dalam wawancara Selasa 9 Desember 2025, A’an menjelaskan bahwa pengasaman terjadi ketika CO₂ atmosfer larut ke laut dan sebagian berubah menjadi asam karbonat.

Senyawa ini terurai menjadi bikarbonat dan ion hidrogen.  Ia mengatakan pH alami laut sekitar 8,1 dan penurunan kecil saja sudah memengaruhi organisme berkalsium.

“Penurunan pH laut sebesar 0,1 sampai 0,2 unit, misalnya dari 8,1 menjadi 7,9 sampai 7,8, dapat menurunkan ketersediaan ion karbonat secara signifikan dan berdampak pada organisme seperti karang dan kerang, yang artinya bisa sangat berdampak pada ekosistem laut,” terangnya.

Kondisi lebih asam melarutkan kalsium karbonat sehingga karang, kerang, siput, dan plankton sulit tumbuh optimal.

Sistem karbonat laut sebenarnya stabil, tetapi CO₂ atmosfer terus meningkat. Di Paparan Sunda juga ada tambahan tekanan dari aliran karbon organik yang berasal dari lahan gambut Sumatra dan Kalimantan.

Bahan organik terbawa sungai lalu terurai dan mempercepat penurunan pH.

“Di kawasan tropis seperti kita, proses biogeokimia lokal membuat pengasaman laut berlangsung lebih cepat,” tambah A’an. Kawasan ini juga dipengaruhi monsun, arus sungai besar, dan aktivitas manusia.

Penelitian tujuh tahun oleh BRIN bersama NTU dan NUS di Selat Singapura menunjukkan pH sering berada di bawah 8 yang tidak ideal bagi organisme berkalsium.

Kejenuhan aragonit juga kerap berada di bawah 2,5 padahal karang membutuhkan nilai antara 2,5 sampai 4 untuk tumbuh optimal. Fluktuasi pH tahunan cukup tinggi yaitu 0,11 sampai 0,19 unit dipengaruhi pergantian monsun.

Tren penurunan pH tercatat mencapai minus 0,043 unit per dekade yang dua kali lebih cepat dari rata-rata global minus 0,019.

Penurunan ini disebabkan penyerapan CO₂ dari udara dan penguraian bahan organik dari gambut.

“Jika kondisi menjadi lebih asam, kalsium karbonat akan terlarut. Artinya, karang dan organisme berkalsium tidak bisa tumbuh optimal,” ujar A’an.

Ketika karang melemah, ekosistem laut ikut terdampak. Keanekaragaman hayati berkurang, produktivitas perikanan turun, rantai makanan terganggu, dan pariwisata bahari menurun. Padahal sekitar 60 persen penduduk Indonesia bergantung pada sumber daya pesisir.

Dengan data tujuh tahun, penelitian ini menghitung Trend Detection Time atau TDT sekitar lima tahun.

“Artinya, dengan pemantauan rutin selama lima tahun saja, Indonesia dapat mengetahui arah perubahan kimia laut dengan akurasi tinggi, baik untuk rekonstruksi masa lalu maupun proyeksi masa depan,” jelas A’an.

Dengan tren penurunan sekitar 0,04 unit per dekade, pH yang sekarang berada di angka 8 dapat turun menjadi sekitar 7,96 dalam sepuluh tahun. Angka ini terlihat kecil tetapi sangat signifikan bagi karang.

Pengasaman laut tidak bisa dihentikan cepat, namun A’an menyebut langkah untuk memperlambatnya.

Pertama, mengurangi emisi karbon melalui pelestarian hutan, penyerapan karbon berbasis alam, dan pengurangan emisi industri.

Kedua, Indonesia perlu sistem observasi laut nasional yang memantau parameter kimia seperti pH, tekanan CO₂, oksigen, dan nutrien. Saat ini pemantauan oleh BMKG dan BIG masih fokus pada parameter fisik seperti gelombang, arus, pasang surut, dan angin sementara pemantauan kimia dan biologi masih terbatas.

“Pemantauan jangka panjang menjadi dasar mitigasi. Tanpa data yang lengkap dan konsisten, Indonesia tidak akan mengetahui kondisi laut secara akurat sehingga kebijakan sulit disusun berdasarkan bukti,” tegas A’an.

Ia menekankan pentingnya integrasi pemantauan fisik, kimia, dan biologi dalam satu sistem sesuai standar Global Ocean Observing System atau GOOS.

Menurutnya, komitmen membangun sistem observasi laut yang utuh menjadi langkah penting agar Indonesia mampu merespons perubahan kondisi laut dengan lebih baik.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60