Media sosial diramaikan dengan perbincangan tentang toko roti yang mengaku bebas gluten, padahal hasil uji lab membuktikan sebaliknya.
Kasus ini viral setelah seorang ibu melaporkan anaknya berusia 17 bulan mengalami ruam dan bengkak parah usai mengonsumsi roti tersebut.
Insiden ini sontak memicu kekhawatiran serius bagi masyarakat penderita alergi atau intoleransi gluten. Dr. Inge Permadhi, dokter gizi klinik Siloam Hospitals, menjelaskan gluten adalah protein alami yang terkandung dalam gandum dan jelai.
Pada sebagian orang, gluten dapat memicu reaksi imun, gangguan pencernaan, hingga sesak napas. Bagi penderita celiac, gluten bahkan bisa merusak usus halus dan menghambat penyerapan nutrisi.
Karena risiko kesehatan yang serius, masyarakat harus sangat waspada terhadap produk berlabel gluten free. Dr. Inge memaparkan tiga langkah krusial sebelum membeli produk dengan klaim bebas gluten.
Pertama, konsumen wajib memastikan produk memiliki label dan sertifikasi resmi dari lembaga pengawas pangan. Kedua, periksa bahan baku dan hindari tepung terigu atau gandum, termasuk oat tanpa sertifikat spesifik. Ketiga, dan paling penting, konsumen harus mewaspadai kontaminasi silang yang rawan terjadi.
Kontaminasi ini terjadi ketika bahan bebas gluten diproses di tempat yang sama dengan bahan bergandum. Bumbu, saus, hingga daging olahan juga sering mengandung gandum sebagai bahan pengental atau filler.
Kontaminasi silang ini menjadi alasan utama mengapa banyak produk gluten free tidak sepenuhnya aman.






