Mengenalkan STEM dari Hal Kecil: Stephanie Riady Ungkap Alasan Anak Indonesia Takut Sains

banner 468x60

Pemerintah Indonesia sedang giat memperkuat pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), salah satunya melalui Sekolah Unggulan Garuda.

Namun, banyak anak Indonesia masih menganggap pelajaran STEM sebagai hal yang menakutkan dan sulit dijangkau. Ilmu berhitung dan sains eksakta sering dipersepsikan sebagai bidang yang rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Stephanie Riady, Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group, bersama tim ilmuwan meneliti akar keengganan ini. Ia mengungkapkan bahwa salah satu hambatan terbesar di tingkat SD adalah rasa cemas atau takut (anxiety) terhadap STEM.

Riset tersebut menemukan bahwa ketakutan anak dipicu oleh anggapan STEM sebagai bidang yang terlalu jauh dari realitas mereka. “Di kelas, kita sering menjunjung tokoh ilmuwan luar negeri seperti Albert Einstein, tapi jarang mengangkat ilmuwan Indonesia,” ujar Stephanie.

Padahal, Indonesia memiliki banyak ilmuwan hebat dengan latar belakang yang dekat dengan siswa. Contohnya adalah Profesor Adi Utarini, pelopor teknologi Wolbachia untuk memberantas demam berdarah.

Ada juga Profesor R. M. Sedyatmo, penemu fondasi cakar ayam, dan Joe Hin Tjio dari Pekalongan, penemu 23 pasang kromosom manusia. Stephanie menegaskan, mengangkat sosok ini penting agar anak menyadari: “Kalau mereka bisa, saya juga bisa.”

Ia membantah anggapan bahwa STEM hanya berkisar pada drone, robot, atau NASA yang terasa mahal dan canggih “Padahal STEM ada di sekitar kita dan bisa dimulai dari hal kecil,” jelasnya. Sebagai Penasihat Ahli di Kemendikdasmen, Stephanie mencontohkan bahwa rasa ingin tahu anak pada tanaman adalah langkah awal berpikir ilmiah.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60