Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa Bangun Budaya Refill, Kampanye Digital PR UNTAG Surabaya Raih Ribuan Interaksi

banner 468x60

Di tengah meningkatnya penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan kampus, kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya berhasil menghadirkan sebuah gerakan edukasi yang tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga mampu mendorong perubahan perilaku mahasiswa menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Melalui kampanye Digital Public Relations Pengurangan Plastik Sekali Pakai untuk Mendorong Budaya Refill di Kalangan Mahasiswa, tim pelaksana membuktikan bahwa sinergi akademik dapat melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat kampus.
Kolaborasi ini dipimpin oleh Mohammad Insan Romadhan dan Siti Mujanah sebagai dosen pendamping yang berperan dalam menyusun konsep pengabdian, merancang strategi komunikasi digital, sekaligus memastikan setiap tahapan program memiliki dasar ilmiah yang kuat. Bersama mereka, Faellen Yuan Dias Cercio sebagai mahasiswa menjadi motor penggerak di lapangan yang menerjemahkan konsep akademik menjadi kampanye kreatif yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Mohammad Insan Romadhan menjelaskan bahwa persoalan plastik sekali pakai bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga persoalan perilaku yang membutuhkan pendekatan komunikasi yang tepat. Karena itu, strategi Digital Public Relations dipilih untuk membangun kesadaran sekaligus mengajak mahasiswa berpartisipasi aktif dalam membentuk budaya refill melalui penggunaan tumbler dan wadah minum yang dapat digunakan berulang kali. Sementara itu, Siti Mujanah memberikan penguatan pada aspek edukasi dan pemberdayaan agar pesan yang disampaikan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi mampu membentuk kebiasaan baru yang berkelanjutan.
Sebagai representasi generasi muda, Faellen Yuan Dias Cercio berperan mengembangkan berbagai konten kampanye yang disesuaikan dengan karakter mahasiswa. Poster digital, video pendek, reels, carousel, template story, hingga ajakan partisipatif dikemas dengan gaya visual yang menarik dan mudah dipahami. Pendekatan tersebut menjadikan isu lingkungan terasa lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari mahasiswa, sehingga mereka tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga bagian dari gerakan perubahan.
Kolaborasi dosen dan mahasiswa ini juga diwujudkan melalui tahapan kerja yang sistematis, mulai dari identifikasi masalah, penyusunan strategi kampanye, produksi konten, peluncuran di media sosial, implementasi kampanye partisipatif, edukasi berkelanjutan, monitoring, evaluasi, hingga penyusunan rekomendasi program lanjutan. Seluruh proses dirancang secara bersama-sama untuk memastikan kampanye mampu menjawab kebutuhan dan karakteristik audiens sasaran.
Hasilnya pun menunjukkan capaian yang menggembirakan. Kampanye digital berhasil memperoleh 5.642 tayangan, 216 likes, dan 139 repost, menandakan tingginya keterlibatan mahasiswa terhadap isu pengurangan plastik sekali pakai. Angka tersebut menunjukkan bahwa pesan yang dibangun melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa mampu menjangkau audiens secara luas sekaligus mendorong penyebaran pesan secara organik melalui media sosial.
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari interaksi digital, tetapi juga dari perubahan pengetahuan dan sikap mahasiswa. Evaluasi melalui pre-test dan post-test memperlihatkan adanya peningkatan skor pada mayoritas responden, dengan persentase peningkatan yang bervariasi mulai dari 5,2 persen hingga 53,8 persen. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kampanye yang dirancang oleh tim pelaksana berhasil meningkatkan pemahaman, motivasi, serta kecenderungan perilaku mahasiswa untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mulai membiasakan budaya refill.
Bagi Mohammad Insan Romadhan dan Siti Mujanah, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat akan lebih berdampak ketika dosen dan mahasiswa bekerja sebagai satu tim yang saling melengkapi. Dosen menghadirkan landasan konseptual dan metodologis, sementara mahasiswa membawa kreativitas, energi, dan kedekatan dengan target audiens. Sinergi tersebut menghasilkan model kampanye digital yang tidak hanya efektif sebagai media edukasi lingkungan, tetapi juga mampu membangun budaya kampus yang lebih berkelanjutan.
Melalui kolaborasi ini, UNTAG Surabaya menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk inovasi komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Gerakan budaya refill yang dipelopori oleh Mohammad Insan Romadhan, Siti Mujanah, dan Faellen Yuan Dias Cercio menjadi contoh bagaimana kolaborasi lintas generasi di lingkungan akademik mampu menghasilkan perubahan nyata, dimulai dari langkah sederhana: membawa tumbler sendiri dan mengurangi plastik sekali pakai demi masa depan lingkungan yang lebih baik.

banner 300x250
banner 468x60