Lemper Bu Lilik Catering dari Kampung Lumpia Surabaya Jadi Andalan, Langganan RS Adi Husada Sejak Subuh

banner 468x60

SURABAYA — Di tengah persaingan UMKM kuliner rumahan yang kian ketat, Bu Lilik Catering di kawasan Kampung Lumpia Surabaya justru mencuri perhatian lewat strategi diferensiasi: fokus pada kue basah khas rumahan, terutama lemper, alih-alih mengikuti arus produk yang sama. Langkah ini relevan dengan tren penguatan identitas merek UMKM dan kebutuhan pasar yang mencari rasa autentik, konsisten, serta mudah dijangkau—termasuk lewat promosi digital sederhana.

Keunikan Bu Lilik Catering terlihat dari pilihan mempertahankan resep klasik turun-temurun dari sang ibu, yang menjadi fondasi rasa dan kualitas produk. Lemper Bu Lilik bahkan menjadi favorit banyak pelanggan lintas kalangan; Rumah Sakit Adi Husada Undaan disebut rutin memesan puluhan lemper sejak pukul 05.00 untuk kebutuhan harian, hingga para dokter kerap menanyakan langsung bila stok belum tersedia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dari resep warisan ke pelanggan loyal

Bu Lilik mengawali ketertarikan di dunia boga sejak menempuh pendidikan di SMK Tata Boga SKKPN (SMK 8 Surabaya). Ia terinspirasi dari ibunya yang pernah bekerja di Toko Kue Libra, tempat asal resep lemper yang kini menjadi identitas usaha Bu Lilik Catering.

Menariknya, di saat banyak pelaku usaha mengejar tren resep viral, Bu Lilik memilih jalur yang lebih konservatif namun terukur: teknik manual yang konsisten dan sudah teruji. “Saya tidak suka mengikuti resep TikTok karena takarannya tidak jelas. Saya lebih percaya pengalaman dan belajar dengan melihat langsung,” ujar Bu Lilik. Konsistensi tersebut memupuk pelanggan loyal yang tidak hanya membeli, tetapi juga merekomendasikan produk secara organik dari mulut ke mulut.

Koci-koci ungu yang “tak sengaja” viral

Selain lemper, salah satu produk yang melejit adalah koci-koci ungu. Varian ini awalnya tercipta karena kehabisan pewarna hijau, namun kemudian justru viral dan menjadi menu favorit pelanggan. Kini, koci-koci ungu disebut sebagai salah satu produk yang paling banyak dipesan setiap hari—menunjukkan bahwa inovasi UMKM kadang lahir dari situasi lapangan, bukan sekadar rencana.

Tumbuh dengan kebersamaan dan jejaring sosial warga

Pertumbuhan Bu Lilik Catering juga ditopang relasi sosial di sekitar lingkungan. Saat pesanan ramai, Bu Lilik melibatkan tetangga untuk membantu produksi. Ia pun menekankan prinsip kolaborasi, bukan kompetisi, dengan UMKM lain—bahkan saling mendukung ketika ada yang kekurangan varian jajanan.

Di sisi lain, Bu Lilik rutin menyiapkan camilan untuk pengajian masjid terdekat setiap Kamis dan aktif dalam kegiatan sosial seperti Jumat Berkah di Kalijudan. “Rezeki itu cukup selama kita tidak mengeluh dan tetap berbagi,” tuturnya.

Adaptasi digital: dari mulut ke mulut ke status WhatsApp

Meski promosi awal berkembang secara organik, Bu Lilik mulai memanfaatkan kanal digital sederhana seperti status WhatsApp untuk memperkenalkan produk, termasuk saat ada stok tambahan akibat pembatalan pesanan. Strategi ini dinilai efektif mendorong penjualan harian, sekaligus menjadi langkah awal menuju digitalisasi pemasaran UMKM kuliner Surabaya yang lebih rapi dan berkelanjutan.

Menuju UMKM yang makin profesional

Ke depan, Bu Lilik menargetkan peningkatan skala usaha: memiliki pegawai tetap dan membuka toko kue basah yang lebih profesional. “Saya ingin usaha ini lebih besar, punya karyawan, dan suatu saat punya toko sendiri,” ungkapnya. Antusiasme pelanggan menjadi sinyal bahwa kualitas rasa, konsistensi produksi, dan ketulusan layanan tetap menjadi modal utama UMKM—bahkan ketika dapur produksinya masih berbasis rumahan.

Ketika UMKM kuliner mampu menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan ruang digital, maka yang tumbuh bukan hanya penjualan—melainkan juga kepercayaan dan keberlanjutan. Dari Kampung Lumpia Surabaya, Bu Lilik Catering membuktikan bahwa resep warisan bisa naik kelas menjadi identitas usaha yang kuat, relevan, dan terus dicari.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60