Upaya mendorong digitalisasi UMKM di Surabaya terus dilakukan mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melalui program kolaborasi lintas mata kuliah yang menyasar UMKM Lapis Surabaya Pakde Bude. Kegiatan berbentuk pendampingan branding dan pemasaran digital ini dinilai penting untuk menjawab tren pemasaran digital yang kian menentukan daya saing UMKM di era media sosial.
Kolaborasi yang melibatkan mata kuliah Komunikasi Visual, Desain Grafis, Manajemen Public Relations, dan Periklanan tersebut berfokus pada penguatan identitas merek dan peningkatan eksposur digital UMKM melalui produksi konten visual, pembaruan desain brand, hingga perencanaan strategi promosi di media sosial. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan sebagai bagian dari proyek akhir semester mahasiswa lintas mata kuliah Ilmu Komunikasi FISIP Untag Surabaya, dengan puncak capaian pada akhir Desember 2025 saat seluruh materi konten dan promosi dinyatakan siap dipublikasikan.
Ketua tim kolaborasi, Claresta, menekankan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembuktian bagi mahasiswa dalam menguji teori komunikasi secara langsung. “Keterlibatan langsung dengan UMKM membuat kami benar-benar memahami tantangan riil di lapangan, sekaligus membuktikan bahwa ilmu komunikasi bisa memberi dampak nyata bagi pelaku usaha,” ujarnya.
Selama proses pendampingan, mahasiswa terjun langsung ke lokasi produksi UMKM Lapis Surabaya Pakde Bude di Jl. Asem Jaya V No.48, RW.52, Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Di lokasi tersebut, tim melakukan pengambilan foto dan video produk, menyusun konsep visual, serta merancang strategi komunikasi digital yang disesuaikan dengan karakter brand lokal.
Pembagian peran antarmata kuliah dirancang saling melengkapi. Tim Komunikasi Visual memperkuat produksi konten bernuansa kekinian, tim Desain Grafis mengembangkan logo serta materi promosi seperti X-banner, brosur, dan merchandise, sementara Manajemen Public Relations mengarahkan pengelolaan akun Instagram resmi beserta narasi komunikasi merek. Di sisi lain, mata kuliah Periklanan menyusun rancangan kampanye untuk mendorong brand awareness dan memperluas jangkauan pasar melalui kanal digital.
Pemilik UMKM Lapis Surabaya Pakde Bude, Rizka Wahyu Romadhona, mengaku merasakan manfaat langsung dari program tersebut, terutama pada aspek konten dan pemasaran online. “Selama ini kami kesulitan membuat konten dan memasarkan produk secara online. Kehadiran mahasiswa sangat membantu, mulai dari tampilan visual produk sampai perluasan jangkauan pemasaran lewat media sosial,” ungkapnya.
Program kolaborasi lintas mata kuliah ini tidak hanya mendorong peningkatan kualitas branding UMKM dan promosi digital, tetapi juga menjadi ruang belajar praktis bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, kerja tim, serta keterampilan profesional di bidang komunikasi, desain, dan periklanan. Ke depan, model kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan UMKM lokal ini diharapkan terus diperluas agar semakin banyak pelaku usaha di Surabaya mampu beradaptasi dan tumbuh di tengah perubahan ekosistem digital.
Ketika UMKM mampu menemukan suaranya di ruang digital, maka produk lokal tidak hanya bertahan—tetapi juga berpeluang melesat, menembus pasar yang lebih luas dengan identitas merek yang makin kuat.











